Kamis, 12 Desember 2019 |
News Room

Aparatur Desa di Pandeglang Diberi Pemahaman Literasi Informasi

Jumat, 15 Nov 2019 | 14:38 WIB Dibaca: 219 Pengunjung

Rembuk aparatur kelurahan dan desa tentang literasi informasi di Kabupaten Pandeglang. [ist]*

PANDEGLANG, [NEWSmedia] - BNPT DAN FKPT Banten kembali menggelar kegiatan upaya pencegahan radikalisme dan terorisme di Provinsi Banten.

Kali ini kegiatan mengabil tema Saring Sebelum Sharing yang diikuti oleh Kepala Desa, Babinkamtibmas, Babinsa dan para penggiat media sosial (Medosos).

Ketua Panitia pelaksana kegiatan toni anwar mengatakan, kegiatan Hotel Horison Altama Pandeglang Rembuk Aparatur Kelurahan dan Desa tentang Literasi Informasi.

Hal ini dilakukan karena mayoritas penduduk provinsi Banten saat ini, sudah menjadikan telepon selular (ponsel) sebagai salah satu alat yang dibutuhkan dalam berbagai aktifitas keseharian.

Data BPS Provinsi Banten menyebutkan, 70,60% masyarakat Banten atau 8.615.422 jiwa memiliki telepon seluler dari total jumlah penduduk Banten sebanyak 12.203.148 jiwa.

Kota Tangerang Selatan menjadi wilayah yang penduduknya terbanyak memiliki ponsel, yakni mencapai 82,81 persen, disusul Kota Cilegon 78,66 persen, kemudian Kota Tangerang 78,20 persen.

Sebaliknya, Lebak dan Pandeglang menjadi wilayah yang penduduknya sedikit memiliki HP. Selanjutnya 94,46% masyarakat Banten mengakses Internet dari Ponsel.

Dengan kondisi demikian maka, FKPT Banten merasa perlu untuk melakukan sosialisasi literasi informasi kepada aparatur desa sebagai salah upaya kontraradikalisasi.

“Kegiatan ini mengambiil lokus di kabupaten Pandeglang, mengingat di wilayah ini memiliki demografi dan geografi yang menarik dan dianggap perlu untuk menjadi sasaran upaya kontra radikalisasi," kata Toni melalui keterangan tertulis, Jumat (15/11/2019).

Dalam paparannya, Kasubdit Kontra Propaganda BNPT RI, Kolonel (Pas) Sujatmiko menjelaskan, intoleransi merupakan orientasi negatif atau penolakan seseorang terhadap hak-hak politik dan sosial kelompok yang ia tidak setujui.

Sementara Radikalisme adalah ideologi, ide, gagasan yang ingin melakukan perubahan sosal politik dengan kekuasaan serta terorisme sendiri adalah perbuatan atau tindakan yang menggunakan kekerasan yang menimbulkan korban dan kecemasan.

"Adapun pendekatan komperehensif yang kami lakukan dalam penanggulangan terrorisme dilakukan melaui pendekatan lunak atau soft approach dan pendekatan keras atau hard approach," jelasnya.

Sementara Sekretaris FKPT Banten Amas Tajuddin mengatakan akar masalah radikalisme dan Terorisme diantaranya adalah adanya kebencian yang dipicu oleh berbagai aktifitas keseharian, termausuk adanya ketidakadilan sosial, ekonomi, hukum dan politik di masyarakat.

"Budaya literasi ini sangat penting dimiliki oleh masyarakat, karena tidak sedikit masyarakat yang turut menyebarkan hoax terutama di media sosial. Budaya baca, tabayyun, serta mencari informasi hingga ke sumbernya ini masih perlu ditingkatkan," pungkasnya. [ahi]

Penulis: Ahmad Hifni
Editor: Indra Gunawan
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Aparatur Desa di Pandeglang Diberi Pemahaman Literasi Informasi

BERITA TERKAIT

NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top