Rabu, 12 Agustus 2020 |
News Room

Atraksi Debus Warnai Aksi Solidaritas Jurnalis Banten

Kamis, 26 Sept 2019 | 17:52 WIB Dibaca: 435 Pengunjung

Atraksi debus di aksi solidaritas jurnalis Banten di depan KP3B Curug, Kota Serang, Kamis (26/9/2019).*

SERANG, [NEWSmedia] - Atraksi debus atau ilmu kekebalan tubuh khas Banten ditampilkan dalam aksi solidaritas jurnalis Banten di Depan Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) Curug, Kota Serang, Kamis (26/9/2019).

Aksi tersebut merupakan aksi solidaritas atas kekerasan yang dilakukan oleh oknum polisi terhadap sejumlah awak media di berbagai daerah di Indonesia saat meliput demonstrasi kemarin.

"Kita menuntut Kapolri memproses hukum oknum polisi yang melakukan kekerasan terhadap wartawan. Kita tidak ingin terjadi kekerasan terhadap wartawan, apalagi di Banten," kata Koordinator Aksi Deni Saprowi.

Jurnalis di Ibu Kota Provinsi Banten yang terdiri dari IJTI, Pokja Wartawan Hukum dan Kriminal (Hukrim), Pokja Wartawan Harian dan Elektronik Banten, hingga Pokja Wartawan Kota Serang mendesak Kapolri, Jenderal Tito Karnavian, mengusut dan menindak tegas oknum anggota Polri yang melakukan kekerasan terhadap awak media saat melakukan peliputan demonstrasi beberapa hari lalu diberbagai daerah di Indonesia.

Begitupun Dewan Pers (DP) harus melakukan pendampingan terhadap jurnalis yang mendapatkan kekerasan hingga intimidasi saat melakukan kerja-kerja jurnalistik yang dilindungi Undang-undang.

"Jurnalis di Banten menuntut dewan pers turun tangan mengusut dan mendampingi hukum jurnalis yang mengalami kekerasan," jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh wartawan di Kota Cilegon yang tergabung dalam Pokja Wartawan Harian Cilegon (PWHC), mengecam kekerasan terhadap para jurnalis di Indonesia.

Perbuatan oknum anggota Polri itu dianggap oleh anggota PWHC sebagai tindakan kriminal yang harus diberi tindakan tegas.

Terlebih petugas kepolisian yang memahami hukum, sudah seharusnya bekerja sesuai produk hukum dan Undang-undang. Tidak melanggar UU Pers nomor 40 tahun 1999.

"Wartawan dalam melakukan pekerjaanya dilindungi oleh UU No 40 tahun 1999. Jadi, polisi tidak boleh melarang wartawan dalam melaksanakan tugasnya dalam meliput," kata Ketua PWHC, Ronald Siagian. [ahi]

Penulis: Ahmad Hifni
Editor: Indra Gunawan
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Atraksi Debus Warnai Aksi Solidaritas Jurnalis Banten
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top