• Rabu, 1 Desember 2021

Dari Jokowi hingga DPR Minta Bank Pangkas Bunga Kredit

- Selasa, 12 November 2019 | 10:49 WIB
Foto ilustrasi.*
Foto ilustrasi.*

[NEWSmedia] - Suku bunga kredit di perbankan nasional disebut masih tinggi karena masih berada di kisaran double digit. Hal ini dinilai tak bisa membantu penyaluran kredit dan mendorong perekonomian nasional.

Presiden Joko Widodo bahkan sampai kesal bunga kredit tak kunjung turun dan lebih rendah. Kemudian anggota dewan perwakilan rakyat (DPR) RI juga mengeluhkan hal yang sama.

Kira-kira apa ya penyebabnya?

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengungkapkan secara historis, perilaku suku bunga perbankan nasional memang asimetris. Menurut dia suku bunga deposito umumnya lebih responsif terhadap perubahan suku bunga acuan.

"Ketika suku bunga acuan turun suku bunga deposito dengan cepat turun. Demikian juga ketika suku bunga acuan naik, suku bunga deposito akan cepat naik," kata Piter.

Dia mengungkapkan, hal tersebut tidak terjadi dengan suku bunga kredit. Ada yang berbeda, yakni saat bunga acuan naik maka bunga kredit dengan cepat mengikuti.

"Tapi ketika suku bunga acuan turun dan suku bunga deposito sudah ikut turun, suku bunga kredit lambat mengikuti. Net interest margin (NIM) cenderung melebar," ujarnya.

Menurut Piter, kondisi ini terlihat jelas pada tahun 2016 hingga 2017 ketika suku bunga acuan BI turun sangat drastis dari kisaran 7% di awal 2016 menjadi 4,25% di akhir tahun 2017.

Suku bunga deposito cepat bergerak turun, tapi suku bunga kredit bergerak lambat sekali.

Halaman:

Editor: Muhammad Adi

Tags

Terkini

X