• Minggu, 26 September 2021

3 Tahun Newsmedia, Bukan Sebuah Kebetulan

- Minggu, 9 Juli 2017 | 19:50 WIB
HUT ke-3 newsmediacoid.*
HUT ke-3 newsmediacoid.*

BANTEN - Akhir 2010, Ayah saya bilang ‘Kamu jangan pernah meninggalkan dunia media, karena di situ kamu dibesarkan’. Pernyataan itu diucapkan setelah saya pulang memberi kabar, bahwa saya akan resign dari tempat kerja di sebuah perusahaan surat kabar lokal di Banten bernama HU Fajar Banten-Pikiran Rakyat Group (saat ini Kabar Banten).

Lima tahun bekerja sebagai pewarta di surat kabar harian lokal (berawal dari program praktik kerja lapangan studi S-1 Jurnalistik saya di Untirta-sejak 2005), pada akhir 2010, saya memang mulai menemukan titik jenuh bekerja sebagai ‘ujung tombak’ untuk sebuah perusahaan penerbitan.

Saat itu saya sudah sempat memutuskan untuk beralih profesi, menjadi pengusaha (semangat banget, karena saat itu saya baru membuka usaha warnet di sebuah ruko depan kompleks perumahan, di saat pengguna warnet sedang booming).

Maka, saya memohon doa restu ke orang tua untuk konsentrasi di dunia usaha. Namun begitu lah jawabannya. Ayah saya mewanti-wanti supaya saya tidak meninggalkan dunia media (sebagai jurnalis)-karena memang dari situ lah (HU Fajar Banten) saya dibesarkan.

Akhirnya, Desember 2010 saya kembali ke 'habitat' media. Saya kembali berkutat dengan ‘berita’ di salah satu stasiun televisi swasta lokal, yaitu Banten TV (sekarang inTV). Di TV lokal itu, saya lebih banyak bekerja di ‘dapur’ redaksi sebagai produser sekaligus koordinator liputan News Department.

Di perusahaan media tempat terakhir saya bekerja ‘ikut orang’, saya sempat mengucap keinginan (bercita-cita) untuk punya perusahaan media sendiri. Entah kapan, saat itu belum terbayang bisa terwujud kapan. Saya tidak berekspektasi tinggi, dan tetap fokus menekuni pekerjaan sebagai ‘koki informasi’ di perusahaan milik Wawan Setiawan, pengusaha yang tinggal di BSD Tangerang.

Kemudian, demi karier di media, pada awal 2012 saya terpikir untuk meneruskan sekolah. Saya pun menemukan kampus di Jakarta yang membuka program Pascasarjana khusus jurusan media (saat itu saya mengambil jurusan Media Industry & Business di Universitas Mercu Buana, Meruya, Jakarta).

Menjelang akhir 2013, saya mendapat telepon dari seseorang bernama Ali Mujahidin (biasa dipanggil Haji Mumu). Ia meminta saya untuk menemui ‘Haji Mardiono’, saat itu sebagai Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan.

Kabarnya, ‘Pak Mardiono’ mencari profesional yang dapat menangani Bidang Komunikasi dan Media untuk partai politik yang dipimpinnya. Singkat cerita, saya pun memulai pekerjaan baru sebagai Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Media Ketua DPW PPP Provinsi Banten saat itu (Muhamad Mardiono).

Halaman:

Editor: Mulyadi

Tags

Terkini

X