• Minggu, 24 Oktober 2021

Banten Darurat Difteri, Bupati/ Wali Kota Diminta Keluarkan SK KLB

- Selasa, 12 Desember 2017 | 14:20 WIB
Kepala Seksi Surveilans, Imunisasi dan Krisis Kesehatan, Dinkes Provinsi Banten, drg. Rostina di Ruang Kerjanya, Selasa (12/12/2017).*
Kepala Seksi Surveilans, Imunisasi dan Krisis Kesehatan, Dinkes Provinsi Banten, drg. Rostina di Ruang Kerjanya, Selasa (12/12/2017).*

SERANG, [NEWSmedia] - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mencatat, hingga Saat ini, kasus difteri yang terjadi di Banten mencapai 81 kasus dengan angka kematian sembilan kasus.

Kepala Seksi Surveilans, Imunisasi dan Krisis Kesehatan, Dinkes Banten, drg. Rostina mengatakan, dengan maraknya kasus tersebut, Banten sudah memasuki keadaan luar biasa (KLB).

"Sampai hari ini kita sudah ada 81 kasus dan kematiannya 9 kasus, jadi ini sudah KLB, KLB itu kriterianya adalah dari yang belum tidak ada kasus, sekarang ada kasus, kemudian angka kenaikan dua kali lipat dan juga ada kasus kematian, tiga kriteria ini sudah memenuhi," kata Rostina di Ruang Kerjanya, Selasa (12/12/2017).

Dengan demikian, ia meminta kepada Bupati/ Wali Kota untuk mengeluarkan Surat Keterangan Kejadian Luar Biasa (SK KLB) untuk meminimalisir wabah tersebut dengan menggunakan anggaran dari dana tidak terduga (DTT).

"Sekarang kan sudah clossing anggaran, kita mengupayakan dari dana tak terduga agar cair, sudah konsultasi dengan BPBD dan dana tidak terduga bisa cair kalau ada surat keterangan KLB dari kabupaten/ kota, sementara yang udah menyatakan KLB itu baru Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang, yang lain belum," jelasnya.

Kendala yang Dihadapi

Ia juga menuturkan, selama menangani wabah tersebut, pihaknya menemukan beberapa kendala yang dihadapi, salah satunya adalah fasilitas yang belum memadai.

"Kendalanya adalah Rumah Sakit yang ada ruang isolasi itu baru RSDP Serang dan RSU Tangerang, kita sudah bikin surat ke kabupaten/ kota termasuk Provinsi Banten untuk menyediakan ruang isolasi,dan Alhamdulillah RSUD Banten sudah ada dua ruangan isolasi dengan kapasitas bed 10," tuturnya.

Ia mengungkapkan, satu-satunya obat untuk wabah difteri, adalah anti difteri serum (ADS), namun, ADS tersebut di seluruh dunia langka, tidak hanya di Indonesia.

Halaman:

Editor: Mulyadi

Tags

Terkini

X