• Kamis, 23 September 2021

Islam Politik Ambyar

- Senin, 16 Desember 2019 | 12:20 WIB
Mang Durahim.*
Mang Durahim.*

Istilah ambyar sedang trend dan viral, dimulai dari lagunya Dedi Kempot sang penyanyi campur sari dari Solo. Ambyar dalam tafsir syairnya Dedi Kempot kira-kira sesuatu menggambarkan perasaan berkeping penuh sepihan bertebaran tidak karuan akibat perasaan tak sampai sebagaimana tema konsernya The Lord Of Loro Ati. 

Sementara definisi dan arti kata ambyar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [ KBBI ] adalah bercerai-berai, berpisah-pisah. Arti lainnya dari kata ambyar adalah pikiran yang tidak terkonsentrasi lagi  alias buyar.

Menggunakan terminologi ambyar dalam prilaku Islam politik sungguh menarik untuk menjadi bahan diskursus setelah perjalanan Islam politik mengalami kekalahan berkeping-keping, bagai serpihan tak berbentuk dalam konfigurasi politik merebut tahta di bangsa ini.

Kekalahan demi kekalahan Islam politik dari sejarah berdirinya bangsa sampai saat ini, mestinya menjadi pelajaran bagi kelompok Islam politik bahwa menyeret Islam dalam politik kekuasaan sesungguhnya jalan terjal berliku dan nyaris ambyar.

Islam Politik Ambyar ini mengambarkan bagimana Islam politik buyar, pecah dan kalah, serpihan yang  tak pernah mencapai tujuan, istilah kerennya kasih tak sampai alias gagal total.

Kejadian ini terjadi berulang kali bagi Islam politik dalam poses bangsa ini, dimulai dengan dihapusnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta sebagaimana pernyataan salah satu tokoh Islam Politik, Mohammad Natsir menyebut Piagam Jakarta sebagai tonggak sejarah bagi tercapainya cita-cita Islam di bumi Indonesia. Sayang, sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan.

Ambyar Islam politik itu terjadi di Indonesia untuk menegakkan syariat Islam lewat Piagam Jakarta yang sebelumnya berharap diterapkan oleh tokoh-tokoh Islam Politik, ditengah jalan tokoh- tokoh nasional seperti Soekrano, Hatta, KH. Wahid Hasyim setelah meminta fatwa Khadratus Syeikh Hasyim Asyari memutuskan untuk menghapusnya dengan pertimbangan Indonesia adalah negara majemuk dan dengan menyatakan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah mewakili kemajemukan dan sesuai dengan ajaran Islam.

Natsir galau dan menyebut penghapusan tersebut sebagai ultimatum kelompok Kristen, yang tidak saja ditujukan kepada umat Islam, tetapi juga kepada bangsa Indonesia yang baru 24 jam diproklamirkan. Terhadap peristiwa pahit itu, Natsir mengatakan, "Insya Allah umat Islam tidak akan lupa".

Padahal itu bukan karena kelompok kristen tapi kesepakatan tokoh-tokoh bangsa baik Islam maupun non Islam yang menghargai bahwa bangsa ini didirikan oleh semua ragam agama dan tokoh bangsa kala itu sangat  mencintai keragaman bangsa ini. 

Halaman:

Editor: Mulyadi

Tags

Terkini

X