• Jumat, 17 September 2021

Menulis: Menyimpan Memori, Menyambung Imajinasi

- Selasa, 7 April 2020 | 16:17 WIB
Ken Supriyono.*
Ken Supriyono.*

[NEWSmedia] - “Orang boleh pandai setinggi-tingginya, tapi selama tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah dan masyarakatnya.” Pramoedya Ananta Toer.

Ucapan Pram pada karya Bumi Manusia di atas, mengingatkan kita semua. Terlebih, bagi seorang terpelajar yang mesti berlaku adil sejak dalam pikiran dan perbuatan. Setiap perkataannya adalah senjata. Tugas suci untuk membunyikan setiap teks kepada masyarakatnya.

Apalagi, budaya menulis kita belum menggembirakan. Senada dengan budaya baca yang menjadi penunjang dari budaya menulis itu sendiri. Masyarakat kita belum menjadikan baca dan tulis sebagai kebutuhan. Bahkan, banyak yang tidak memiliki akses sumber pengetahuan. 

Di sisi lainnya, pengambil kebijakan kita masih memunggungi buku atau dokumen bahan bacaan lain sebagai sumber pengetahuan dan kebijakannya. Lihat saja, disperitas ketersediaan dan kebutuhan perpustakaan kita. Publikasi riset Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Indeks Alibaca) 2018 oleh Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud masih memperlihatkan disparitas yang cukup menganga. Ketersediaan perpustakaan umum di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, memang telah mencapai lebih dari 90 persen. Namun, itu belum menjamin kebutuhan bacaan masyarakat di pelosok. Lebih-lebih, lokasi perpustakaan umum daerah terletak di pusat kota. Sedangkan, ketersediaan perpustakaan kecamatan baru terpenuhi delapan persen, dan perpustakaan desa yang baru terpenuhi 26 persen dari rasio kebutuhan.

Begitu pula, keberadaan toko buku juga masih tergolong sedikit dan tidak merata. Jaringan toko buku Gramedia, misalnya, baru sekitar 113 toko. Jaringan toko buku lainnya, jauh lebih sedikit lagi jumlahnya. Toko-toko buku tersebut umumnya juga terletak di kota besar atau setidaknya di ibu kota provinsi atau ibu kota kabupaten. Karenanya, akses masyarakat di pelosok tidak terwadahi. 

Padahal, sebagaimana dikatakan Muhsin Kalida dan Moh. Mursyid, dalam bukunya “Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri,” menulis dan membaca menjadi kriteria kemajuan bangsa. Menurutnya, banyak kemajuan bangsa telah punah, tidak lagi dikenali lantaran tidak ada literatur (dalam tulisan) yang ditemukan. Sedangkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak lepas dari aktivitas menulis.

Mari kita menginsyafinya. Lewat aktivitas membaca dan menulislah, kita sedang menginvestasikan pembangunan sumber daya manusia yang kelak menjadi penopang kemajuan peradaban. Mendidik diri kita sebagai manusia untuk memiliki tanggung jawab, sekaligus mengekspresikan kemerdekan dengan daya kreativitas. Lebih jauh, mengukir jejak kemanusiannya, bahkan menyambungkan jalan pikirannya menuju masa depan. 

Melalui aktivitas menulis pula, manusia sedang menyimpan memori (ide, gagasan, dan peristiwa) sekaligus menyambungkan imajinasi di masa depan. Sebab, ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak pernah mati, ia sedang memperpanjang umurnya. Fisiknya bisa jadi terkubur ke dalam liat lahat, namun tidak dengan pikirannya.

Layaknya orang-orang besar, keberhasilannya pun terlihat pada rekam jejak tulisannya. Sebut saja, Soekarno, Moh. Hatta, Tan Malaka, Sjahrir, HOS Tjokroaminoto, Tirto Adhi Soerjo, Soerawardi, Kartini, dan sederet tokoh lainnya, yang menulis tentang depan Indonesia. Semua telah tiada, namun semua rancang bangun pikiran dan cita-cita masih kokoh sebagai khasanah pengetahuan semua anak zaman.

Halaman:

Editor: Mulyadi

Tags

Terkini

X