• Sabtu, 4 Desember 2021

Recovery Pasca Pandemi Membangun Optimisme Kolektif

- Senin, 13 Juli 2020 | 18:32 WIB
Istimewa.*
Istimewa.*

Hingga kini, wabah Covid-19 belum menunjukan tanda-tanda berakhir. Namun, banyak negara mengambil langkah pelonggaran lockdown. Tak terkecuali dengan Indonesia. Ketika angka penularan Covid-19 masih tinggi, pemerintah justru sedang menggodok aturan mengenai pelonggoran PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan mencanangkan mengenai tatanan kenormalan baru atau New Normal. 

Penerapan New Normal diharapkan akan segera memperbaiki perekonomian negara yang sedang terpuruk. Penerapan New Normal bertujuan menekan penyebaran virus, tetap menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasanya, New Normal kini mulai diterapkan di beberapa provinsi di Indonesia. 

Penulis berusaha menganalisis konsep New Normal secara sosiologis melihat respon masyarakat menjalani kehidupan baru dengan menggunakan konsep  AGIL (Adaptation, Goal, Integration dan Latency) yang di populerkan oleh sosiolog Amerika, Tallcot Parsons. 

Pertama, adaptation atau adaptasi, tahap ini mengharuskan adanya pembiasaan kebiasaan baru di masyarakat. Kebiasaan dimaksud, seperti penggunaan masker, menjaga jarak, tidak berkerumun, sering-sering mencuci tangan, dan sebagainya. Sulit awalnya, karena memang merubah kebiasaan. 

Kedua, goal atau tujuan, sistem sosial memiliki tujuan yang harus dicapai, dan tujuannya bagaimana sistem sosial tetap bertahan. New normal sendiri memiliki tujuan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasanya. Tujuan ini akan tercapai jika masyarakat mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru di era new normal.

Ketiga, Integration atau integrasi). Pada tahap ini, diperlukan kerja sama yang baik antar berbagai komponen seperti pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Integrasi menjadi penting, karena satu sama lain saling mempengaruhi, jika pemerintah sudah membuat aturan, maka aturan itu harus dijalankan. Tanpa adanya integrasi, kebijakan new normal akan sia-sia dan hanya jalan ditempat, tanpa ada hasil yang dicapai.

Sedangkan, keempat yaitu Latency atau laten. Ini merupakan tahapan terakhir, latensi adalah pemeliharaan nilai, norma, dan budaya yang dianut masyarakat. Setelah masyarakat mampu beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru dan tercapainya tujuan New Normal, maka seluruh komponen masyarakat perlu untuk menjaga nilai, norma, dan budaya baru yang sudah terbentuk. Pemeliharaan sistem sosial New Normal diperlukan supaya sistem ini tetap bertahan dan tidak ambruk.

Untuk itulah perlu adanya kerja sama dari semua komponen masyarakat untuk beradaptasi dengan kebiasan-kebiasaan baru di era new normal. Selanjutanya kebiasaan baru yang sudah terbentuk tersebut perlu dijaga dan dipertahankan guna mencapai tujuan new normal. Jika kesemuanya itu telah dijalankan, bukan tidak mungkin penerapan New Normal akan berhasil.

Pilkada di Tengah Pandemi

Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2020 menetapkan gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak pada 9 Desember 2020 yang sebelumnya diselenggarakan 23 September 2020. Gelaran Pilkada Serentak 2020, untuk memilih 9 Gubenur, 224 Bupati, dan 37 Walikota secara serentak. 

Halaman:

Editor: Muhammad Adi

Tags

Terkini

X