• Senin, 3 Oktober 2022

Ini Dampak Buruk Kesehatan Bila Melewatkan Sarapan

- Jumat, 2 Maret 2018 | 00:02 WIB
Foto ilustrasi
Foto ilustrasi

[NEWSmedia] - Kebiasaan sarapan di kalangan masyarakat Indonesia dibanding makan siang dan makan malam masih tergolong rendah. Menurut Naskah Akademik Pekan Sarapan Nasional, PERGIZI PANGAN Indonesia 2012, prevalensi tidak biasa sarapan pada anak dan remaja bisa mencapai angka 17%-59% dan pada orang dewasa 31.2%.

Hasil analisis data konsumsi pangan Riskesdas 2010 pada 35.000 anak usia sekolah bahkan menunjukkan hampir separuh (44.6%) anak usia sekolah yang sarapan hanya memperoleh asupan energi kurang dari 15% kebutuhannya saat sarapan, yang seharusnya 15-30% kebutuhan.

Lalu apa dampaknya bila kita melewatkan sarapan? Tubuh hanya akan mendapatkan asupan gizi yang rendah. Karena sarapan disebut memiliki gizi penting yang tidak bisa diganti dengan gizi dari jadwal makanan lainnya. Dampak lainnya adalah cenderung tidak bisa mengontrol nafsu makan dibanding individu yang rutin sarapan pagi. Kemudian seseorang yang melewatkan sarapan juga akan memiliki Indeks Massa Tubuh yang lebih tinggi (IMT) dibandingkan individu yang rutin sarapan.

Selain itu, Ketua Umum PERGIZI Pangan Indonesia Hardinsyah mengatakan bahwa melewatkan sarapan akan berdampak serius pada perkembangan kognitif anak. Anak-anak yang tidak sarapan memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah dibandingkan individu yang rutin sarapan.

Banyak alasan mengapa sarapan tidak sepopuler waktu makan lainnya. Beberapa alasan yang dikemukakan adalah perasaan mual di pagi hari hingga tidak ada waktu untuk sarapan. Untuk mengakali hal ini, Anda bisa menjaga asupan gizi anak dengan segelas susu.

Kebiasaan sarapan sehat juga telah menjadi kebijakan pemerintah untuk mewujudkan Gizi Seimbang, dan merupakan pesan ke-6 dalam Pedoman Gizi Seimbang yaitu 'Biasakan Sarapan' yang tercantum dalam PERMENKES nomor 41 tahun 2014. Setiap tahunnya di bulan Februari Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (PERGIZI PANGAN) Indonesia menggelar Pekan Sarapan Sehat sebagai puncak momen kampanye dan edukasi untuk mendorong masyarakat menerapkan pesan membiasakan sarapan sebagai bagian dari upaya mewujudkan gizi seimbang.

Hardinsyah juga mengatakan, "Setiap tahun PERGIZI PANGAN Indonesia memperingati Pekan Sarapan Nasional (PESAN) untuk mendorong masyarakat menerapkan gizi seimbang melalui pesan membiasakan sarapan. Kami menyambut baik dukungan dari berbagai pihak termasuk dari Frisian Flag Indonesia yang mengangkat tentang pentingnya sarapan sehat bagi kesehatan dan kecerdasan,” ucap Hardinsyah dalam siaran pers Kampanye #SemangatPagi.

Selain baik untuk kesehatan fisik, sarapan sehat juga memberikan manfaat bagi kesehatan mental. Kebiasaan sederhana sarapan sambil minum susu dapat menjadi perekat untuk membangun ikatan keluarga.

Psikolog yang juga Ibu dari dua anak Anita Chandra, M.Psi sepakat bahwa kebiasaan baik meluangkan waktu berkumpul saat sarapan dan minum susu bersama perlu dipupuk sejak dini. Ia juga mengatakan bahwa waktu di pagi hari seperti sarapan bersama menjadi medium baik untuk mengajarkan kebiasaan baik dan memberikan waktu berkualitas antar anggota keluarga. Dengan permulaan yang baik dan sehat, anak akan mempunyai fondasi kuat untuk hidup sehat dan percaya diri.

Halaman:

Editor: Mulyadi

Tags

Terkini

5 Ide Menu Sarapan yang Bisa Dibuat dengan Air Fryer

Senin, 11 Januari 2021 | 07:16 WIB

Menguak Fakta di Balik Mitos soal Menstruasi

Sabtu, 19 Desember 2020 | 06:19 WIB

5 Cara Budidaya Paprika Supaya Tunai Untung

Senin, 26 Oktober 2020 | 07:34 WIB

Tips Cegah Covid-19 di Tempat Kerja

Senin, 29 Juni 2020 | 09:35 WIB

Bocoran 6 Fitur Baru WhatsApp yang Sedang Diuji

Jumat, 12 Juni 2020 | 19:23 WIB

5 Manfaat Telur Makanan Favorit si Kecil

Rabu, 10 Juni 2020 | 13:04 WIB

Tips Membersihkan Alat Makeup di Masa Pandemi

Rabu, 10 Juni 2020 | 11:04 WIB

Cara Pakai Face Wash yang Tepat

Rabu, 10 Juni 2020 | 09:04 WIB