• Jumat, 17 September 2021

Masjid Saka Tunggal Dengan Tradisi Tanpa Pengeras Suara dan Beduk Kanitennya

- Minggu, 27 Mei 2018 | 05:01 WIB
Pedagang memajang beduk untuk dijual.*
Pedagang memajang beduk untuk dijual.*

[NEWSmedia] - Beduk jadi penanda khas ajakan umat Islam melaksanakan ibadah salat lima waktu yang dibawa oleh Walisanga pada abad ke 15/16. Tradisi tersebut berlanjut hingga kini. Beduk memiliki bentuk besar dan suara yang menggema sebagai ajakan untuk beribadah yang memiliki ciri khas yang unik membawa khazanah Islam.

Di Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, beduk telah menjadi ciri kreativitas warga. Kurang lebih 16 warga Keniten terampil membuat kerajinan beduk sejak puluhan tahun silam. Mereka telah menjadi salah satu pemasok beduk di wilayah Jawa Tengah bagian selatan.

Kerajinan beduk Keniten tak lepas dari tangan terampil Toufik Amin (46). Ia mempelajari pembuatan beduk secara turun temurun dari ayahnya. Beduk Keniten dikenal luas berkualitas suara baik, menggunakan bahan baku kayu pilihan serta pengolahan kulit yang baik.

"Permintaan beduk untuk surau atau masjid, ramai di bulan Rajab, Sya'ban dan Ramadan. Di Ramadan tahun 2018 ini, sejak dua bulan lalu pesanan yang masuk 100 beduk lebih. Permintaan terbanyak dari Bumiayu, Kabupaten Brebes dan Kroya Kabupaten Cilacap," katanya saat ditemui di kediamannya, Sabtu (26/5/2018).

Pembuatan beduk berkualitas, kata Toufik, karena bahan dasar kayu pilihan berjenis trembesi. Selain itu pembentangan kulit untuk beduk juga tak boleh asal. Pembuatan satu beduk umumnya bakal memakan waktu selama sepekan. "Kalau lebih bagus lagi pakai kayu jati memang. Tapi ongkos produksinya terlalu bengkak," kata Tofik.

Keberadaan beduk di Kabupaten Banyumas juga punya sejarah panjang terhubung dengan Masjid Saka Tunggal yang dibangun tahun 1288 di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon. Masjid ini juga jadi bagian kearifan lokal penganut Islam Aboge yang salah satu ciri khasnya mempertahankan tradisi tidak menggunakan pengeras suara. Mereka mempertahankan tradisi menandakan waktu salat dengan menabuh beduk dan melantangkan azan semata nyaring suara.

Juru kunci Masjid Saka Tunggal, Sulam, bercerita penanda waktu salat sejak dahulu kala menggunakan beduk dan kentongan, yakni semacam tetabuhan terbuat dari batang kayu. Beduk di Saka Tunggal juga berukuran kecil. Peletakan beduk tidak di luar masjid, tapi justru di di dalam masjid.

"Sudah bagian tradisi sejak dulu. Kalau beduk di sini juga sudah berumur tua," ujarnya.

Fungsi beduk di masa silam, sebagaimana dirujuk dari Historia.id dalam "Tak-tak-tak, Dung, Ini Sejarah Beduk" dengan mengutip Kees van Dijk, "Perubahan Kontur Masjid", dalam Peter JM Nas dan Martien de Vletter, Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia, sebelum abad ke-20 masjid-masjid di Asia Tenggara tak memiliki menara untuk mengumandangkan azan. Sebagai gantinya, masjid-masjid dilengkapi sebuah beduk, yang dipukul sebelum azan dikumandangkan.

Halaman:

Editor: Mulyadi

Tags

Terkini

5 Ide Menu Sarapan yang Bisa Dibuat dengan Air Fryer

Senin, 11 Januari 2021 | 07:16 WIB

Menguak Fakta di Balik Mitos soal Menstruasi

Sabtu, 19 Desember 2020 | 06:19 WIB

5 Cara Budidaya Paprika Supaya Tunai Untung

Senin, 26 Oktober 2020 | 07:34 WIB

Tips Cegah Covid-19 di Tempat Kerja

Senin, 29 Juni 2020 | 09:35 WIB

Bocoran 6 Fitur Baru WhatsApp yang Sedang Diuji

Jumat, 12 Juni 2020 | 19:23 WIB

5 Manfaat Telur Makanan Favorit si Kecil

Rabu, 10 Juni 2020 | 13:04 WIB

Tips Membersihkan Alat Makeup di Masa Pandemi

Rabu, 10 Juni 2020 | 11:04 WIB

Cara Pakai Face Wash yang Tepat

Rabu, 10 Juni 2020 | 09:04 WIB

3 Makanan untuk Kulit Cantik, Nomor 1 Coklat

Selasa, 9 Juni 2020 | 09:30 WIB
X