• Senin, 18 Oktober 2021

358.700 Vaksin Bantuan Perancis Telah Datang ke Indonesia, diantaranya Produksi Astrazeneca dan Pfizer

- Sabtu, 11 September 2021 | 10:00 WIB
Jenis vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia (Pixabay/ WiR_Pix)
Jenis vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia (Pixabay/ WiR_Pix)
NEWSmedia – Indonesia kembali kedatangan vaksin Covid19 AstraZeneca dan Vaksin Pfizer tahap ke-55. Indonesia kembali menerima 358.700 dosis vaksin AstraZeneca. “Kedatangan vaksin ini adalah pengiriman tahap pertama dukungan kerja sama dose sharing dari pemerintah Perancis, dari total komitmen sebesar 3 juta dosis.” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam Youtube Sekretariat Presiden pada Jumat,10 September 2021.
 
Retno mengatakan pemberian vaksin ini merupakan tahap pertama yang diterima dari kerja sama dengan pemerintah Perancis, dengan total komitmen sebanyak 3 juta dosis yang akan didapatkan.
 
Untuk yang datang hari ini dari total pembelian 615.000 dosis vaksin AstraZeneca dan 639.990 dosis vaksin Pfizer, jika dihitung dari titik kedatangan maka jumlah vaksin yang telah tiba di Indonesia sebanyak 225.536.190 dosis vaksin baik dalam bentuk curah maupun dalam bentuk vaksin.
Baik Vaksin dan vaksinasi sangat penting agar Covid19 dapat segera teratasi, namun ketimpangan pendistribusian vaksin di seluruh dunia.
 
 
Hingga saat ini sudah 5.5 milyar dosis vaksin telah disuntikan, 80% diantaranya Negara maju dan berkembang.
WHO sendiri memiliki target 10% populasi disetiap negara telah di vaksinasi hingga akhir bulan ini dan 40% populasi di setiap negara di akhir tahun 2021.
 
“Target-target WHO ini dengan mudah dapat dicapai oleh negara berpenghasilan tinggi, 90% negara maju telah mencapai target vaksinasi 10% populasinya dan lebih dari 70% negara maju telah mencapai target 40 %, tetapi hingga saat ini belum ada satu negara dengan penghasilan rendah atau terbelakang yang dapat mencapai 10%.” kata Menteri Luar Negeri.
 
 
Retno juga mengatakan target yang telah ditentukan oleh WHO akan mudah dicapai oleh negara-negara maju, namun Indonesia yang merupakan negara berkembang akan terus berusaha untuk mencapai target yang telah ditentukan.
“Tanpa redistribusi surflus vaksin dari negara maju, 1 sampai 2.8 juta jiwa dapat melayang” lanjutnya.
 
 
Tentu kata Retno, tanpa adanya dukungan-dukungan dari negara maju, negara berkembang seperti Indonesia akan banyak jiwa yang melayang akibat keterlambatan vaksinasi.
“Masih banyak tantangan sebelum peperangan ini dapat kita menangkan, yang pasti mesin diplomasi Indonesia akan terus bergerak dengan kecepatan penuh untuk memenuhi kebutuhan vaksin nasional, dan menyuarakan akses yang adil terhadap vaksin di semua negara," katanya.***

Editor: Fatihin Rere

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X