• Rabu, 8 Desember 2021

Partai Gerindra Selidiki Identitas Diduga Pelaku Pemerkosaan dan Penculikan Terhadap 4 Siswi SMA di Jayapura

- Minggu, 12 September 2021 | 11:30 WIB
Ilustrasi pemerkosaan remaja  (Tampan Fernando)
Ilustrasi pemerkosaan remaja (Tampan Fernando)

NEWSmedia – Kasus penculikan dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur kembali terjadi. Kali ini, sebanyak empat siswi SMA di Jayapura menjadi korban pemerkosaan dan penculikan oleh diduga Kepala Dinas PUPR dan politisi Partai Gerindra.

Kabar tersebut dituliskan oleh @kasmenyalasu dalam cuitan akun Twitter pribadinya. Di sana ia menjelaskan mengenai kronologi pemerkosaan dan penculikan yang dilakukan terhadap empat siswi berusia 16 tahun tersebut.

Alerta! Empat murid SMU Jayapura diculik dan diperkosa Kepala Dinas Kemen PU dan politisi Gerindra,” tulis @kasmenyalasu pada 10 September 2021.

Baca Juga: Jadwal SIM Keliling Kota Serang Minggu 12 September 2021

Menanggapi hal tersebut, Partai Gerindra melalui akun Twitter resminya memberitahukan bahwa mereka tengah melakukan penyelidikan identitas pelaku.

Siap. Sudah admin laporkan sejak kemarin, dan sedang diselidiki identitas yang bersangkutan,” tulisnya sebagaimana yang dilansir Newsmedia dari akun Twitter resmi @Gerindra yang diunggah pada 10 September 2021.

Kronologi kejadian diawali dengan salah satu paman dari korban yang menawari korban dan teman-temannya untuk berjalan-jalan di Jakarta tanpa sepengetahuan keluarga.

Tindak pidana pemerkosaan tersebut berawal dari ajakan om dari korban dengan iming-iming hanya ingin mengajak jalan-jalan para korban ke Jakarta tanpa sepengetahuan orang tua atau keluarga,” tulis @kasmenyalasu.

Baca Juga: Indonesia Dapat 3 Juta Vaksin dari Belanda, 500.000 Dosis Baru Datang Merek Janssen

Modus yang diberikan kepada korban adalah memberikan iming-iming uang yang akan diberikan pada bulan Juni. Namun, aksi berubah menjadi penculikan berencana dengan pemaksaan dan intimidasi.

Pada pertengahan bulan April 2021, modus yang digunakan pelaku adalah dengan memberikan iming-iming uang kepada korban yang akan diberikan bulan Juni. Tetapi berubah menjadi aksi penculikan terencana dengan pemaksaan membeikan minuman beralkohol, mengajak ke bar, menganiaya, meneror hingga mengintimidasi para korban agar menuruti semua permintaan pelaku. Jika tidak, maka akan diancam dan ditekan dengan berbagai alasan,” lanjutnya.

Pelaku mengiming-iming korban dengan memberikan promosi jabatan ke orang tua korban dan korban akan diajak untuk menangani proyek pembangunan di Papua.

Baca Juga: 2 Dekade Partai Demokrat: Lika-Liku Sejarah Hingga Petuah SBY kepada AHY dkk Supaya Tidak Kendor

Pelaku mengancam agar korban tidak memberitahukan aksi bejat mereka kepada orangtua atau keluarga korban.

Pada dua peristiwa yang berbeda itu, di mana korban diberi minuman hingga tak sadarkan diri, salah satu dari 4 korban menjadi sasaran kekerasan seksual.

Di mana pada dua peristiwa yang berbeda bulan itu, setelah para korban dikasih minum hingga tak sadarkan diri, akhirnya salah seorang dari korban menjadi sasaran korban kekerasan seksual berkali-kali oleh oknum Kepala Dinas di Provinsi Papua,” katanya.

Baca Juga: Hasil MPL ID Season 8 Hari Ini: Aura Fire Comeback 2-1, Alter Ego dan RRQ Hoshi Menang 2-0

Aksi pemerkosaan dan penculikan tersebut akhirnya mulai terendus setelah pihak keluarga korban yang mendengar desas desus keberangkatan anak-anak mereka dari teman-teman korban.

Pihak keluarga korban telah melaporkan perlakuan bejat tersebut ke polisi, namun mereka serta pengacara malah diancam dan diperlakukan kurang baik. Diduga, ada kerja sama antara pelaku dengan aparat.

Kerjasama pihak pelaku dan diduga juga Polsek Heram, kami korban maupun keluarga telah diancam bahkan kuasa hukum kami pun dibentak dan dicaci maki di depan Kapolsek Heram dan anggotanya,” ujarnya.

Baca Juga: Dilarang Mendampingi Korban dalam Pemeriksaan Internal, Kuasa Hukum MS Merasa Dilecehkan KPI

Akhirnya, pihak keluarga korban mencabut laporan polisi dan menandatangani surat penyelesaian masalah secara kekeluargaan atas permintaan para pelaku.

Pihak keluarga korban kemudian dipanggil kembali oleh Polresta Kota Jayapura untuk melakukan mediasi. Hasil dari mediasi tersebut menyimpulkan bahwa proses di Polsek Heram sudah tuntas dan akan dilanjutkan di tingkat Polda Papua.

Hingga pada 9 September 2021, pihak keluarga korban masih bersama Polda namun didatangi oleh para pelaku dan massanya.

Baca Juga: Pelantikan Ratusan Pejabat Pemprov Banten Dinilai Cacat Hukum

Oleh karena itu, pada 9 September 2021 korban bersama keluarga sedang di Polda, namun telah didatangi lagi oleh pihak pelaku dan massanya,” pungkasnya.

Hingga saat ini, belum ada informasi lebih lanjut terkait kasus tersebut. Pihak dari Kemen PUPR juga masih belum memberikan pernyataannya.***

Halaman:

Editor: Fatihin Rere

Sumber: twitter @kasmenyalasu

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X