• Sabtu, 10 Desember 2022

4 Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW yang Unik dan Hanya ada di Indonesia, Nomor 3 Sering Dilakukan

- Selasa, 27 September 2022 | 20:20 WIB
Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW yang hanya dimiliki di Indonesia. (freepik.com)
Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW yang hanya dimiliki di Indonesia. (freepik.com)
NEWSmedia - Berikut ini Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia yang unik dan  terdapat pada beberapa daerah di Indonesia.
 
Adapun tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW yang unik tersebut bermacam-macam cara merayakannya.
 
Perihal tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW yang unik di atas akan dijelaskan dalam artikel di bawah ini. Simak uraiannya.
 
 
1. Festival endhog-endhogan masyarakat Banyuwangi mewujudkan pengalaman spirit go tong royong dalam peringatan Maulid Nabi dengan menggelar tradisi Endog endogan tradisi ini memiliki filosofi tentang kepedulian sesama.
 
Dengan berbagi tradisi ini dilakukan dengan mengarak ratusan telur yang ditancapkan pada jodang pohon pisang dan ancak atau wadah berisi nasi dan lauk-pauk.
  
Tradisi ini hampir dilakukan setiap kampung dan desa diseluruh Banyuwangi untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad Sallawllahualaihiwasallam.
 
   
Setelah diarak jodang dan ancak langsung dibawa ke masjid untuk dibacakan shalawat dan doa acara diakhiri dengan pembagian telur dan masyarakat makan bersama.
  
2. Bungo lado tradisi Bungo lado adalah tradisi yang dimiliki warga Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat.
    
Bungo lado merupakan pohon hias berdaun uang yang biasa juga disebut dengan pohon uang-uang kertas dari berbagai nominal. 
 
  
Uang-uang itu ditempel pada ranting-ranting pohon yang dipercantik dengan kertas hias.
 
Tradisi Bungo lado ini menjadi kesempatan bagi warga yang juga perantau untuk menyumbang pembangunan rumah ibadah di daerah itu.
 
Hal itu dikarenakan masyarakat dari beberapa desa akan membawa Bungo lado.
   
Uang yang terkumpul biasanya mencapai puluhan juta rupiah dan disumbangkan untuk pembangunan rumah ibadah.
 
 
Tradisi Maulid ini biasanya digelar secara bergantian di beberapa Kecamatan.
  
Tradisi Bungo lado ini terkait erat dengan petani yang merupakan sebagian besar profesi warga Sumatera Barat.
   
Diantara hasil petani tersebut adalah tanaman cabai yang bagi masyarakat Minangkabau disebut dengan lado cabai atau lado.
 
  
Sebelum berbuah akan berbunga terlebih dahulu semakin banyak bunganya tentu akan semakin banyak pula buahnya.
 
Dalam hal ini sumbangan uang diumpamakan dengan cabai tersebut. Sumbangan Bungo lado ini merupakan simbol dari rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah.
  
3. Grebeg Mulud yaitu Peringatan maulud nabi pada zaman Kesultanan Mataram.
 
Kata grebek artinya mengikuti yaitu mengikuti Sultan dan para pembesar keluar dari Keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi.
 
  
Perayaan ini lengkap dengan sarana upacara seperti nasi gunungan dan sebagainya.
  
Puncak peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diperingati dengan penyelenggaraan upacara Grebeg Maulud.
 
Puncak dari upacara Ini adalah iringan gunungan yang dibawa ke Masjid Agung lalu sebagian gunungan dibagikan kepada masyarakat umum.
 
 
Diperjalanan diperebutkan bagian-bagian dari gunungan ini. Umumnya dianggap akan memperkuat tekad dan memiliki daya Tuah terutama bagi kaum Tani.
 
Mereka akan menanamnya di lahan persawahan untuk memperkuat doa agar lahannya menjadi subur dan terhindar dari berbagai hama perusak tanaman.
  
4. Maudu Lompoa di Cikoang Takalar Sulawesi Selatan adalah sebuah tradisi menyambut Maulid Nabi.
 
  
Diadakannya tradisi Maudu lompoa cikoang  ini diambil dari bahasa Makassar. Tradisi ini merupakan perpaduan dari unsur atraksi budaya dengan ritual-ritual keagamaan yang digelar setiap tahun di bulan rabi'ul Awwal berdasarkan kalender Hijriah.
   
Hal unik dari tradisi ini adalah persiapannya yang memakan waktu empat puluh hari. Tradisi tersebut diawali dengan mandi di bulan syafar yang dipimpin para sesepuh.
 
Pada perayaan maudu lompoa masyarakat cikoang yang berpakaian adat berjalan beriringan sambil memikul julung-julung nantinya julung-julung tersebut akan diperebutkan oleh semua orang.
 
   
Julung-julung yang diperebutkan tersebut berisi telur ayam hias dan beras ketan yang dimasak setengah matang.
   
Kain khas Sulawesi serta aksesoris lainnya menjadi pelengkap agar lebih indah julung-julung tersebut.***

Editor: Ilah Rohilah

Tags

Artikel Terkait

Terkini