• Sabtu, 4 Desember 2021

Arsitek Sebut Ada Kesalahan Pada ‘Master Plan’ Revitalisasi Banten Lama

- Jumat, 20 Juli 2018 | 21:11 WIB
Area menara Banten di kawasan Banten Lama yang akan direvitalisasi. (Foto: Repro)
Area menara Banten di kawasan Banten Lama yang akan direvitalisasi. (Foto: Repro)

SERANG, [NEWSmedia] - Pemerintah Provinsi Banten bersama-sama dengan Pemerintah Kota Serang dan Kabupaten Serang telah membuat MoU untuk memulai penataan Kawasan Banten Lama. Kawasan bersejarah Banten itu akan direvitalisasi berdasarkan master plan yang telah dibuat sejak 2010.

Namun, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Banten menilai ada yang tidak sesuai dalam master plan yang dijadikan rujukan pemerintah untuk merevitalisasi Kawasan Banten Lama saat ini. Kesalahan master plan itu dinilai akan menghilangkan marwah ke-Banten-an.

“Sudah melihat (master plan) yang dipresentasikan Pemkot Serang dan Pemprov Banten. Menurut saya ada yang tidak sesuai, jadi makna revitalisasinya hilang,” kata Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Banten Mukodas Syuhada saat menjadi narasumber program ‘Pak Pemred Siaran Pagi’ bersama Pemimpin Redaksi NEWSMEDIA, Rapih Herdiansyah, di Radio Serang Gawe FM, Jumat (20/7/2019).

Mukodas menjelaskan makna revitalisasi yang dimaksud adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah vital atau hidup, dan karena perkembangan zaman ataupun sesuatu kondisinya mengalami kemunduran atau degradasi. “Di Banten kan dihancurkan pada zaman Deandles Belanda, dan sekarang mau direvitalisasi,” ujarnya.

Menurut dia, langkah yang saat ini sedang dilakukan pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Banten terhadap Kawasan Banten lama, yaitu baru sebatas penataan, bukan revitalisasi. “Revitalisasi itu ada tingkatannya, makro, mikro, dan mencakup perbaikan aspek fisik, ekonomi dan sosial. Jadi, konsep revitalisasi ini tidak hanya fisik saja, tapi ada aspek lainnya tadi,” tutur Mukodas.

Kesalahan atau ketidaksesuaian yang dimaksud dalam master plan revitalisasi Banten lama, kata Mukodas, yaitu adanya perencanaan pembangunan sarana yang sebelumnya tidak ada, seperti terminal dan penataan alun-alun.

“Akan lebih bagus itu memvitalkan kembali yang selama ini mati, seperti kanal. Menghidupkan kembali jalan lama dari Tasikardi ke Surosowan. Untuk sarana transportasi yang ada dulu, ada pedati delman, kanal (perahu), stasiun kereta api dihidupkan kembali. Jadi semua kendaraan tidak ada masuk ke kawasan itu. Termasuk penataan alun-alun, jangan banyak pengerasan, hiasan, lebih baik hijaukan, banyakin tanaman tanaman lokal, di situ ada perajin gerabahnya, itu dihidupkan lagi,” katanya.

Banten Lama sebagai pusat peradaban Islam di Banten, terdapat bangunan ibadah Masjid Agung, bangunan pemerintahannya yaitu Istana Surosowan, kemudian ada public space, lapangan, alun-alun, dan juga tempat ekonomi (pasar) serta akses transportasinya, termasuk kanal. Semuanya harus direvitalisasi.

“Jangan membuat bangunan yang dulunya nggak ada. Kalau membangun lagi yang dulu tidak ada, akan banyak bentroknya, seperti kejadian membangun terminal, begitu digali ternyata ada makamnya di situ. Jadi yang paling aman itu, memvitalkan kembali artefak-artefak yang sebelumnya pernah ada. Kendaraan bermotor jangan sampai masuk ke dalam kawasan itu. Semua aktivitas bisa jalan kaki atau naik delman. Itu makna revitalisasinya akan lebih kena,” sambung Mukodas.

Halaman:

Editor: Mulyadi

Tags

Terkini

X