• Rabu, 20 Oktober 2021

Hari Santri Nasional: Janji Kampanye Jokowi yang Tuai Polemik

- Kamis, 22 Oktober 2020 | 11:48 WIB
Hari Santri Nasional.*
Hari Santri Nasional.*

Menurutnya, santri tak dimaksudkan hanya untuk alumni pesantren, tapi lebih pada persoalan berakhlak seperti santri.

"Jadi tidak benar kalau memaknai hari santri itu hanya miliknya santri, miliknya alumni pesantren," klaimnya.

Ketua Asosiasi Pesantren NU Abdul Ghoffar Rozien mengakui penetapan Hari Santri Nasional itu sempat mengalami perdebatan. Namun, mayoritas yang hadir dalam pertemuan tersebut sepakat Hari Santri Nasional ditetapkan pada 22 Oktober.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), santri bermakna orang yang mendalami agama Islam, orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh, orang yang saleh.

Dosen Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM Mada Sukmajati menyebut, dalam artian sempit, santri bisa berarti mereka yang menggunakan simbol kultural seperti peci, songkok, atau sarung yang erat dengan kalangan Nahdlatul Ulama (NU) alias nahdliyin.

Namun, tukasnya, "Bila santri didefinisikan longgar termasuk di dalamnya adalah mereka yang terbuka, tidak selalu dalam konteks tradisional artinya sampai ke modern dan seterusnya itu kan bisa juga mengarah ke Muhammadiyah".

Terlepas dari itu, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli, pada November 2018, mengatakan penetapan Hari Santri Nasional, dan juga penunjukan Ma'ruf Amin sebagai Wakil Presiden bagi Jokowi, memiliki nilai politik karena menambah keuntungan elektoral.

Pemilihan santri sebagai pangsa pasar ini bukannya tanpa alasan. Pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar menilai pengaruh kiai bisa berdampak pada pilihan santri. Menurutnya, hubungan antara santri dan kiai yang bersifat patron dan klien.

Sehingga, apapun pilihan kyai akan diikuti santrinya. "Sami'na wa atho'na," kata dia, pada 2018.

Sejarah

Halaman:

Editor: Muhammad Adi

Tags

Terkini

X