• Minggu, 22 Mei 2022

Cendekiawan Muslim Nyatakan Agama Baha’i Menyesatkan dan Bisa Merusak Islam

- Sabtu, 31 Juli 2021 | 05:15 WIB
Rumah Ibadah Baha'i di Wilmette, Illinois, Amerika Serikat. Tangkapan layar galeri foto di situs komunitas Baha'i Indonesia. (Bahai.id)
Rumah Ibadah Baha'i di Wilmette, Illinois, Amerika Serikat. Tangkapan layar galeri foto di situs komunitas Baha'i Indonesia. (Bahai.id)

NEWSmedia - Pernyataan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas melalui video yang berisi ucapan selamat Hari Raya Naw-Ruz 178 EB kepada komunitas Baha’i menjadi kontroversi. Sejumlah tokoh, termasuk Cendekiawan Muslim menyoroti dan netizen ramai mengomentari terkait Baha’i yang dipersepsikan sebagai agama atau aliran kepercayaan baru di Indonesia.

Pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Provinsi Banten, Endang Yusro mengungkap pembahasan tentang Agama Baha’i memunculkan kontroversi dan menjadi pertanyaan apakah agama tersebut menyesatkan atau tidak.

Menurutnya, Agama Baha'i tidak bisa diposisikan sama halnya dengan keberadaan agama yang sudah banyak diketahui masyarakat Indonesia, seperti Kristen, Hindu, Budha, hingga Konghucu.

“Jika pada agama Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu, kita sebagai muslim, bahkan yang awam pun, entah karena doktrin atau kesadaran, sepakat untuk menyatakan itu adalah agama yang beda. Jalan mereka hanya berbeda dengan jalan kita,” kata Yusro kepada NEWSmedia, Jumat, 30 Juli 2021.

Baca Juga: Abah Thowil Jawilan, Kiai Banten yang Tidak Mempan Dibakar Perampok

Akan tetapi untuk Agama Baha’i, Yusro menilai ada kesesatan di dalamnya. Ia pun mendefinisikan kata 'Sesat' menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang berarti menyimpang dari kebenaran (tentang agama dan sebagainya). Kemudian ada kata turunan dari sesat, yaitu menyesatkan.

"Jadi Agama Baha'i itu sesat dan menyesatkan,”ucap Kepala SMAIT Bait et-Tauhied Kota Serang ini.

Yusro mengungkapkan bahwa Baha'i mempunyai ikatan emosional dan historikal dengan muslim. Emosional dalam hal ini yaitu beberapa penganut Baha'i bisa jadi masih sanak famili, keturunan dari orang tua atau saudara muslim, karena faktor kedekatan lingkungan.

Sementara ikatan historikalnya adalah karena pemimpin mereka, Mírzá Ḥusayn-`Alí Núrí yang kemudian disebut Baha'ullah, sejarahnya beragama Islam.

Melihat fakta tersebut, maka tidak heran hampir semua tempat ibadah, bahkan ritual-ritual yang dilakukan komunitas Baha'i menyerupai Agama Islam.

Halaman:

Editor: Rapih Herdiansyah

Tags

Terkini