• Rabu, 19 Januari 2022

Hukum Salat Jumat 2 Gelombang, Ini Fatwa MUI Lengkap Dengan Hadis dan Kaidah Fiqihnya

- Jumat, 13 Agustus 2021 | 11:32 WIB
Umat muslim menggelar ibadah salat jumat di Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat, Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Jumat 25 Juni 2021. Pengelola masjid menggelar ibadah Salat Jumat dengan menerapkan protokol kesehatan ketat dan membatasi kapasitas jemaah. (Foto: Kavin Faza/Ayobandung.com)
Umat muslim menggelar ibadah salat jumat di Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat, Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Jumat 25 Juni 2021. Pengelola masjid menggelar ibadah Salat Jumat dengan menerapkan protokol kesehatan ketat dan membatasi kapasitas jemaah. (Foto: Kavin Faza/Ayobandung.com)

NEWSmedia - Berdasarkan surat edaran Dewan Masjid Indonesia (DMI) masjid-masjid yang jemaahnya banyak dan berpotensi membludak diimbau untuk menggear Salat Jumat 2 gelombang. Hal itu sebagai upaya untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19.

Salat Jumat 2 gelombang diatur dengan sistem ganjil genap berdasar angka akhir nomor telepon atau nomor handphone (HP).

Untuk pemilik nomor HP yang ujungnya genap diarahkan untuk mengikuti Salat Jumat pukul 12.00 WIB. Sementara pemilik nomor ganjil Salat Jumat nya di gelombang kedua, pukul 13.00 WIB.

Hal itu tertuang dalam Surat Edaran Dewan Masjid Indonesia (DMI) Nomor 105-Khusus /PP-DMI/A/Vl/2020 yang dikeluarkan pada 16 Juni 2020, ditanda tangani Ketua Dewan Masjid Indonesia, Jusuf Kalla.

Baca Juga: Ramai-Ramai Berduka, Ibunda Mendagri Tito Karnavian Meninggal Dunia

Berkaitan dengan edaran itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa Nomor 5/MUNAS VI/MUI/2000 tentang pelaksanaan Salat Jumat 2 gelombang.

Fatwa itu diputuskan melalui Musyawarah Nasional VI Majelis Ulama Indonesia yang berlangsung pada tanggal 23-27 Rabiul Akhir 1421 H/ 25-28 Juli 2020 M.

Isi dalam Salinan fatwa itu dijelaskan bahwa Salat Jumat adalah salah satu ibadah dalam Islam yang hukumnya fardu ‘ain. MUI pun membeberkan sejumlah dalil, antara lain:

Hai orang yang beriman! Apabila sudah diserukan untuk menunaikan salat pada hari Jum’at, segeralah mengingat Allah, dan tinggalkanlah jual beli; itu akan lebihbaik bagimu jika kam tahu” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 9).

Kemudian diungkap juga hadis riwayat Imam Muslim dari ‘Abdullah ibn Mas’ud:

Baca Juga: Daftar Kebiasaan Baru di Kampus yang Berbeda dengan Sekolah, Calon Mahasiswa Baru Wajib Tahu!

“Nabi saw berkata kepada kaum yang meninggalkan Salat Jum’at: ‘Saya sudah berniat untuk memerintahkan seorang laki-laki agar menjadi imam salat, kemudian saya akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan salat Jum’at.”

Dijelaskan bahwa sebagai suatu ibadah, bentuk maupun tata cara pelaksanaan salat Jumat harus mengikuti segala ketentuan yang telah ditetapkan oleh hukum Islam (Syari’ah) serta dipraktikkan oleh Rasulullah.

Dalam fatwa itu juga diutarakan salah satu kaidah Fiqih, yang menegaskan:

“Hukum asal dalam masalah ibadah adalah tauqif (mengikuti ketentuan dan tata cara yang telah ditetapkan oleh Syari’ah). Karena itu, tidak dibenarkan beribadah kepada Allah kecuali dengan peribadatan yang telah disyari’atkan oleh Allah dalam Kitab-Nya dan melalui penjelasan Rasul-nya, Muhammad saw. Hal itu karena ibadah adalah hak murni Allah yang ia tuntut dari para hamba-Nya berdasarkan sifat rububiyah-Nya terhadap mereka. Tata cara, sifat dan ber-taqarrub (melakukan pendekatan diri kepada Allah) dengan ibadah hanya boleh dilakukan dengan cara yang telah disyari’atkan dan diizinkan-Nya. Ia berfirman: ‘Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu (selain Allah) yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura [42];21).

“Ibadat itu didasarkan pada tauqif dan ittiba’ (mengikuti petunjuk dan contoh dari Nabi), bukan pada hawa nafsu dan ibtida’ (ciptaan sendiri). Ditegaskan dalam Sahih Bukhari Muslim, dari ‘A’isyah, dari Nabi saw., ia bersabda, ‘Barang siapa mengada-adakan dalam agama kita ini sesuatu yang bukan dari agama, maka ia ditolak,” begitu penegasan yang diutarakan dalam fatwa.

Baca Juga: Tus Kuncung, Qori Nasional Pertama Asal Banten, Pernah Menjadi Imam Solat Subuh Buya Hamka

Dalam fatwa itu juga dikatakan, sejak masa Nabi sampai dengan abad ke-20 Masehi, masalah pelaksanaan salat Jumat 2 gelombang belum pernah dibicarakan atau difatwakan oleh para ulama.

Hal itu menunjukkan bahwa masalah tersebut tidak dibenarkan dan tidak dapat dipandang sebagai masalah khilafiyah.

Baca Juga: Kiai Fuad Halimi alias Aki Gunung, Ulama Sakti di Pandeglang yang Sholat Jum'atnya Sering di Mekah

Sebagaimana juga ketika surat kabar al-Jumhuriyah (Mesir) edisi 7 April 1955 menyiarkan sebuah keputusan (qarar) tentang kewajiban wanita melaksanakan Salat Jumat yang dilakukan sebelum pelaksanaan Salat Jumat oleh kaum pria, ulama terkemuka saat itu, Mahmud Syaltut menegaskan, antara lain sebagai berikut:

“Himbauan untuk melakukan salat Jum’at dua kali di satu tempat dan pada waktu yang sama—kecuali diselingi waktu untuk memberikan kesempatan kepada gelombang pertama keluar dan gelombang kedua masuk masjid—dalam dua kali berjamaah dan dengan dua kali khutbah, belum pernah dikenal, baik pada masa sekarang maupun pada masa lalu, juga tidak mempunyai sandaran (dasar) dalam syari’ah. Dengan demikian, hal ketiga ini dipandang sebagai tasyri’ (penetapan hukum) sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah.”

Baca Juga: Tradisi Langkahan, Adat Warga Serang Banten Ketika Seorang Kakak ‘Disalip’ Nikah Sang Adik

Itulah penjelasan MUI dalam Fatwa Nomor 5/MUNAS VI/MUI/2000 tentang pelaksanaan Salat Jumat 2 gelombang.

Dengan demikian, pelaksanaan Salat Jumat 2 gelombang tidak diperkenankan karena tidak dibenarkan dalam syariat Islam.***

Halaman:
1
2
3

Editor: Rapih Herdiansyah

Sumber: Fatwa MUI

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X