• Rabu, 1 Desember 2021

ICW: Anak-anak Indonesia Belum Sepenuhnya Merdeka

- Rabu, 18 Agustus 2021 | 08:00 WIB
Foto Ilustrasi siswa Sekolah Dasar di pedalaman. (NEWS Media)
Foto Ilustrasi siswa Sekolah Dasar di pedalaman. (NEWS Media)

NEWSmedia – Tepat di hari kemerdekaaan RI, Selasa 17 Agustus 2021, Indonesia Coruption Watch (ICW) menyuarakan hak pendidikan bagi anak negeri. Utamanya mereka yang berada di pelosok tanah air. Pernyataan ICW terkait seputar pengadaan laptop oleh Kemendikbud yang nilainya mencapai Rp3,7 Triliun.

ICW mengurai, dalam diskusi publik bertajuk “Laptop Kemendikbud untuk Siapa?” yang digelar ICW dan KOPEL Indonesia, pada 10 Agustus sebelumnya menyimpulkan bahwa kemerdekaan belum dinikimati oleh semua anak bangsa.

“Perwakilan guru dari wilayah yang termasuk 3T mengatakan bahwa sekolah tempat ia mengajar masih susah akses internet. Jangankan internet, listrik saja masih pakai diesel. Masa pandemi Covid19 bantuan gawai & Laptop Kemendikbud memang diperlukan demi lancarnya pembelajaran jarak jauh. Namun, ada yang lebih prioritas selain laptop yakni pemberian dan penggunaan kuota secara merata. Penyediaan listrik juga menjadi prioritas di berbagai daerah,” dikutip melalui media sosial Twitter @sahabatICW, Selasa 17 Agustus 2021.

Baca Juga: Gian Zola Tinggalkan Persib Bandung Jelang Kick Off BRI Liga 1 Indonesia 2021

Selain internet dan listrik, masih banyak masalah lainnya seperti sekolah yang rusak, angka putus sekolah yang masih tinggi, peningkatan mutu guru, dan banyak lagi yang juga membutuhkan anggaran serta perhatian besar, terlebih dari Kemendikbud RI.

“Jika bantuan laptop disebut sebagai bentuk memerdekakan semua anak di Indonesia untuk belajar, tapi hanya dapat dinikmati anak yang tinggal di perkotaan, maka anak-anak di Indonesia belum sepenuhnya merdeka,” cuit akun @sahabat ICW lagi.

“76 tahun merdeka tapi pelayanan pendidikan kita masih menjadi tantangan. Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung berdampak besar pada kemajuan pendidikan Indonesia. Meski banyak langkah telah diambil, efektivitas pembelajaran dari rumah belum maksimal,” imbuh akun @sahabt ICW lainnya.

Baca Juga: Tweet Covid-29 Mahfud MD Trending, Netizen: Itu Varian Apalagi Coba?

Senelumnya, dalam diskusi publik bertema “Laptop Kemendikbud untuk Siapa”, Peneliti ICW Dewi Anggraeni menyoroti kebijakan pengadaan perangkat TIK sebesar Rp 3,7 triliun oleh Kemendikbud. Anggaran yang bersumber dari APBN dan DAK Fisik, akan dibelanjakan laptop dan perangkat pendukungnya guna memperlancar program Digitalisasi Pendidikan.

Spesifikasi Chromebook dan laptop harus merupakan produk dalam negeri menjadi aturan yang ditetapkan Kemendikbud sesuai Permendikbud No. 5/2021, melalui pemilihan penyedia di e-catalog LKPP RI, dan hanya ada 6 penyedia yang memenuhi ketentuan tersebut.

“Selain mengakibatkan persaingan tidak sehat karena pilihan penyedia laptop yang terbatas, pengadaan Laptop Kemendikbud tidak disertai perhitungan kebutuhan & skala prioritas, juga beresiko gagal serta korup,” ujar Dewi.

Baca Juga: Untuk Pertanggungjawabkan Cuitannya, M Bernie Harus Datang ke Wilayah Adat Baduy Dalam Waktu 1x24 Jam

Dewi mengatakan adanya kejanggalan, lantaran ICW tak menemukan perencanaan pengadaan laptop tersebut dalam situs atau platform Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) LKPP Kemendikbudristek.

Karenanya, ICW meminta untuk mengkaji ulang kebijakan pengadaan laptop tersebut. Program Digitalisasi Pendidikan memang bukan program yang buruk, tapi harus dipersiapkan dengan matang dan tidak langsung lompat pada pengadaan laptop dengan harga fantastis.***

 

Halaman:

Editor: Adam Adhary Abimanyu

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X