• Kamis, 2 Desember 2021

Profesor di Universitas ETH Zurich Swiss Jelaskan Maksud COVID 22 yang Berpotensi Terjadi di Tahun Depan

- Jumat, 27 Agustus 2021 | 19:58 WIB
Ilustrasi COVID. (Photo from Freepik)
Ilustrasi COVID. (Photo from Freepik)

NEWSmedia - Baru-baru ini masyarakat digegerkan dengan munculnya informasi tentang COVID 22 sebagai varian baru virus Corona yang disebut lebih berbahaya dibanding varian Delta. Hal itu tentu saja kekhawatiran baru di masyarakat.

Munculnya istilah COVID 22 ini berawal dari ungkapan Profesor Sai Reddy, yang merupakan profesor dari Sistem dan Imunologi Sintetis di Universitas ETH Zurich di Swiss.

“Saya mempercayai COVID di 2022, terutama pada Januari hingga Maret memiliki peluang lebih buruk dibanding COVID di 2021,” kata Profesor Sai Reddy dalam wawancaranya di media Blick, surat kabar berbahasa Jerman di Swiss.

Baca Juga: Presenter Dita Fakhrana Banyak Dicari Orang Gegara Gugat Cerai Suaminya, Ini Profil Singkatnya

Profesor Reddy menjelaskan kemungkinan bahwa di 2022 COVID bisa lebih buruk lantaran varian Delta telah tersebar secara luas, dan kurang ketatnya protokol dalam beraktivitas yang meningkatkan risiko transmisi dan lahirnya varian Corona yang baru.

Dia juga menanggapi terkait fase pandemi selanjutnya yang mendorong varian Beta atau Gamma semakin menular.

“Itu akan menjadi masalah besar untuk tahun mendatang. Covid 22 bisa lebih buruk dari apa yang kita saksikan sekarang,” tuturnya.

Baca Juga: 5 Bahaya Duduk Terlalu Lama yang Harus Diketahui, Mulai dari Gangguan Punggung, Sampai Serangan Jantung

Pada saat diwawancara oleh inews.co.uk, Profesor Reddy pun meluruskan tentang kesalahpahaman penyebutan COVID 22 yang menghebohkan itu. Menurut Prof Reddy, hal yang ia sampaikan salah dipahami oleh orang banyak.

“Untuk penjelasan lebih lanjut, maksud pernyataan saya itu adalah untuk menyampaikan bahwa saya percaya COVID di 2022, khususnya di awal tahun Januari hingga Maret berpeluang lebih buruk dari tahun ini, COVID di 2021,” kata Profesor Reddy, menegaskan.

Halaman:

Editor: Rapih Herdiansyah

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X