• Selasa, 4 Oktober 2022

Waspada! BPOM Banten Temukan Makanan Olahan Mengandung Zat Kimia Berbahaya

- Jumat, 17 Maret 2017 | 14:20 WIB
Pabrik makanan olahan milik PT Ruhuey Indonabati di Jalan KH Mutaqin RT 04/ RW 02 Kelurahan Gembor, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang digerebek petugas BPOM Provinsi Banten pada Kamis (16/3/2017)
Pabrik makanan olahan milik PT Ruhuey Indonabati di Jalan KH Mutaqin RT 04/ RW 02 Kelurahan Gembor, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang digerebek petugas BPOM Provinsi Banten pada Kamis (16/3/2017)

TANGERANG, [NEWSmedia] - Pabrik makanan olahan milik PT Ruhuey Indonabati di Jalan KH Mutaqin RT 04/ RW 02 Kelurahan Gembor, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang digerebek petugas BPOM Provinsi Banten pada Kamis (16/3/2017) malam. Diduga pabrik tersebut mengandung zat berbahaya.

Penggerebekan dilakukan karena pabrik tersebut tidak memiliki izin edar. Dalam penggerebekan itu petugas BPOM berhasil menyita beberapa produk siap edar untuk uji sampel di laboratorium.

Selain menyita produk siap edar, BPOM juga menghentikan aktifitas pabrik olahan makan tersebut. Penggerebekan dilakukan petugas BPOM Banten dengan menggandeng aparat dari Polrestro Tangerang serta Polda Metro Jaya dalam penggerebekan tersebut.

"Selain tidak adanya izin usaha dan izin edar, makanan olahan yang diproduksi pabrik ini selama enam tahun diduga mengandung bahan kimia berbahaya," ujar Kepala BPOM Banten, Kashuri.

Berbagai makanan olahan vegetarian, seperti seperti bakso dan nugget serta otak-otak diproduksi oleh perusahaan tersebut. Dari hasil uji lab cepat yang ada di lokasi, diketahui bahan makanan diduga mengandung zat berbahaya.

"Mereka juga memalsukan izin edar," ucapnya.

Selain tak memiliki izin, pabrik itu menghasilkan produk makanan yang tak sesuai standar. Menurut Kashuri, ini terkait dengan kualitas kebersihan produk makanan beku tersebut.

"Dari sisi sanitasi-higienis tidak memenuhi ketentuan. Kalau kita lihat tadi di gudang dan tempat produksi ditemukan banyak kecoa, bau tidak sedap," urai Kashuri.

Kondisi itu jelas tak memenuhi syarat produksi. Hal tersebut juga dianggap bahaya karena makanan dikonsumsi banyak orang.

Halaman:

Editor: Muhammad Adi

Tags

Terkini