Rabu, 18 September 2019 |
News Room

Suporter Indonesia: Hyper-nasionalis di Lapangan Hijau

Selasa, 10 Sept 2019 | 16:03 WIB Dibaca: 225 Pengunjung

Suporter Indonesia.*

[NEWSmedia] - Laga Grup G Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia antara Indonesia vs Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Kamis (6/9/2019) diwarnai keributan. Suporter tuan rumah mengamuk dan menyerang suporter Malaysia.

Usai pertandingan, yang dimenangkan Malaysia 3-2---kendati Indonesia sempat memimpin 2-1, keributan kembali pecah di luar stadion. Ratusan suporter Malaysia, bahkan menteri olahraga negara tetangga itu, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, sampai terjebak tak bisa pulang.

Tensi panas sendiri sedianya sudah terjadi sebelum pertandingan. Di media sosial, beredar suporter--pendukung garis keras katanya--mengatai-ngatai, melempari batu, kepada suporter Malaysia. Di tribune, suporter tim tamu juga diperlakukan sama: dilempari botol, air kencing, flare, sampai ada yang ditandu.

Di media sosial, pro kontra terjadi menyikapi keributan tersebut. Banyak yang mengecam ulah suporter Indonesia, tapi juga tak sedikit yang menganggap hal tersebut wajar.

Sebagian yang merasa kesal kebanyakan karena menilai Indonesia membuat malu. Suporter Merah Putih dinilai telah merusak pertandingan sekelas Kualifikasi Piala Dunia--yang dipantau langsung FIFA. Belum lagi alasan-alasan seperti kerusakan yang mereka timbulkan di GBK.

Sementara yang menganggap kericuhan wajar terjadi, merasa suporter 'hanya' meluapkan kekesalannya kepada suporter Malaysia, atau katakanlah hanya Malaysia (dalam konteks sebagai negara). Alasannya juga berupa-rupa, mulai dari sebagai balas dendam suporter Indonesia ke Malaysia hingga faktor eksternal yakni menganggap negara Malaysia itu sendiri adalah musuh.

Keributan di laga Indonesia vs Malaysia bisa dibilang terjadi karena kompleksnya masalah. Mulai dari ketidakbecusan pemangku kepentingan sepakbola menghadirkan prestasi hingga suporter yang hampir tak pernah dirangkul, diajarkan, bagaimana menjadi suporter yang baik.

Itu faktor eksternal. Di luar itu, ada masalah yang lebih pelik. Suporter Indonesia menyeret kekesalannya dengan landasan nasionalisme. Menyangkut harga diri bangsa Indonesia.

Sebelum laga, perang komentar netizen antara Indonesia dan Malaysia banyak terkait masalah yang tak ada kaitannya dengan pertandingan yang bakal dilakoni.

Banyak suporter Indonesia mengumpat 'malingsia' kepada Malaysia, yang dianggap sebagai negara pencuri kebudayaan Indonesia. Malaysia sendiri membantahnya, dan mencibir kelakuan suporter Indonesia.

Situasi belakangan ini juga memanas usai salah satu pengusaha Malaysia menuding ojek online, salah satu mata pencaharian masyarakat Indonesia, cuma dipakai oleh orang miskin. Masyarakat Indonesia pun berang, lantaran menilai pengusaha Malaysia itu telah memandang rendah tingkat ekonominya.

Masalah terakhir adalah salah satu yang mengkhawatirkan. Nasionalisme suporter Indonesia diwujudkan dalam bentuk yang salah kaprah: mengintimidasi sejak sebelum pertandingan, membentangkan koreografi bertuliskan Fuck You Loser! hingga menyerang ke tribune suporter Malaysia atas dasar nasionalisme.

Sepakbola di Indonesia sendiri memang candu. Puluhan ribu orang rela datang ke stadion dan jutaan pasang mata akan menyaksikan televisi saat klub atau Timnas Indonesia bermain, terlebih di level internasional. Suporter sepakbola Indonesia adalah salah satu yang paling militan di dunia, dan itu diakui internasional.

John Hoberman menyebut olahraga adalah fenomena psikologi masa. Maka sepakbola adalah kekuatan ketiga setelah agama dan politik, yang mampu membuat jutaan orang Indonesia tumpah ruah ke jalan, bahagia ketika menang, dan menangis ketika kalah.

Suporter Indonesia pun menjadikan sepakbola, dalam hal ini Timnas Indonesia, sebagai identitas pribadinya ketika menghadapi Malaysia. Ketika kalah, mereka pun merasa harga dirinya terinjak-injak. Dan karena yang mengalahkan Malaysia, di mana gesekan antarmasyarakatnya terus terjadi, maka keributan pun pecah seperti yang telah terjadi.

Ekspresi brutal suporter Indonesia ini boleh jadi disebut, menyitir Ariel Haryanto, hipernasionalis di lapangan hijau. Perwujudan kecintaan suporter Indonesia pada tanah airnya telah melewati batas hingga ke lapangan hijau dan diekspresikan dengan liar.

Suporter lepas kontrol, sehingga membenarkan apa yang dilakukannya kepada pendukung Malaysia. Berdalih atas nama Indonesia, mereka merasa wajar menyerang suporter Malaysia. Berdalih suporter fanatik Indonesia, mereka kelihatan seperti bocah SMA yang kerap tawuran guna mencari jati diri.

Dalam lima tahun terakhir, jargon NKRI Harga Mati bukan hal asing di telinga. Di jalan-jalan, masjid, hingga lapangan hijau, slogan tersebut membuat masyarakat seolah mabuk nasionalisme. Tak terkecuali berimbas kepada suporter Indonesia, yang sampai-sampai tak bisa menerima kekalahan atas dasar harkat dan martabat bangsa dalam sebuah pertandingan olahraga.

Para pemangku kepentingan, baik PSSI dan Kemenpora, tentu bisa meredam masalah ini sesuai job desk mereka. Benahi sistem sepakbolanya, yang mana dari buruknya kualitas liga berimbas pada performa loyo skuat Timnas, wajib dilakukan.

Selain itu, edukasi suporter tidak bisa tidak harus dilakukan. Rentetan keributan suporter yang terjadi saban tahun, dari kasus meninggalnya Ricko Andrean, terbunuhnya Haringga Sirila, hingga keributan di laga Indonesia vs Malaysia menjadi bukti baik PSSI dan pemerintah, dalam hal ini Kemenpora, gagal menyelesaikan masalah klasik ini.

Dengan perbaikan seperti itu, niscaya prestasi Timnas Indonesia akan datang dengan sendirinya. Suporter pun bahagia, dan larut dalam kesenangan dalam konteks sepakbola itu sendiri. [dtc]

Editor: Newsmedia
Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

Suporter Indonesia: Hyper-nasionalis di Lapangan Hijau
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top